Kyai Asrori al-Ishaqi, generasi ke-38 dalam garis keturunan
Rasulullaah Muhammad SAW, telah lama mengemban amanah mengayomi dan
mempersatukan umat Islam melalui Tarekat yang dianutnya, Qadiriyyah wa
Naqsyabandiyyah al-Utsmaniyyah – yang dinisbahkan kepada Kyai Utsman al-Ishaqi
r.a. Nama al-Ishaqi dinisbahkan kepada Maulana Ishaq, ayahanda Sunan Giri. Jadi
dalam garis keturunannya yang mulia ini, Syekh Asrori masih keturunan Sunan
Giri.
Sebagaimana
lazimnya putra kyai besar, Kyai Asrori sejak muda rajin menimba ilmu
pengetahuan, mengembara dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren lainnya.
Namun konon masa beliau mondok selalu sebentar. Kabarnya beliau pernah nyantri
di Darul Ulum, Rejoso, Jombang, namun hanya setahun. Demikian pula saat nyantri
di Pondok Pare Kediri dan Pondok Bendo.
Yang
menarik, ketika mondok di Pondok Rejoso Jombang, Kiai Asrori tak aktif
mengikuti ngaji. Namun itu tak membuat risau KH Mustain Ramli, pimpinan Pondok
Rejoso. “Biarkan saja, anak macan kan akhirnya jadi macan juga,” kata Kiai
Mustain Ramli. Karena kepintarannya yang luar biasa, terutama di bidang ilmu
agama, di kalangan kiai dan santri pondok, Kiai Asrori dinilai memiliki ilmu
laduni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Dia memperoleh ilmu itu
tanpa melalui proses belajar-mengajar yang wajar sebagaimana dijalani santri
pondok pada umumnya.
 |
| yai waktu masih muda |
Selama
menimba ilmu di Pondok Rejoso itu, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan
kitab Ihya’ Ulum Al-Din karya Imam Al Ghazali dengan sangat baik. “Kalau saya
bukan bapaknya, saya mau kok ngaji kepadanya,” demikian ujar KH Utsman
Al-Ishaqi.
Saat
masih muda kabarnya Kiai Asrori badannya kurus karena banyak tirakat dan
berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang
keluarnya malam hari. Jama’ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang
kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari.
Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani
berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.
Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian
diberikan kepada Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat
Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai Asrori inilah jama’ah yang
hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori
memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa
tambak pada waktu itu.
Dakwahnya
dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil
dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli,
sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Dikisahkan, ada seorang tamu
asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan
masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. “Terima
kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil
sendiri, lebih baik dibagi-bagi”, ujarnya.
Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok
Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok
tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan
lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah
induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang
cukup besar.
Hingga kini, murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak
lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan
tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para
selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah
sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing
dengan thariqah.
Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat
thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang,
dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap
bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang
tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia
sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.
Sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Al Utsmaniyah memiliki
tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian
tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus-menerus melakukan pembinaan
secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap
Ahad awal bulan hijriyah dan kunjungan rutin ke berbagai daerah.
Untuk
membina jama’ah yang telah melakukan baiat, khususnya di wilayah Jawa Tengah,
bahkan Kiai Rori telah menggunakan media elektronik yaitu Radio Siaran untuk
penyebaran dakwahnya, sehingga murid muridnya tidak lagi akan merasa kehilangan
kendali. Ada lima radio di Jawa Tengah yang dimilikinya setiap pagi, siang dan
malam selalu memutar ulang dakwahnya Kiai Rori, yakni Radio Rasika FM dan “W”
FM berada di Semarang, Radio Citra FM di Kendal, Radio Amarta FM di Pekalongan
dan Radio Suara Tegal berada di Slawi.
Dalam setiap memberikan siraman rohani, Kiai Rori menggunakan rujukan Kitab
Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al Bantani, Al Hikam karya Imam Ibnu
Atha’illah dan lain lain. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas soal
tasawuf, Kiai Rori juga sering menyisipkan masalah fiqih sebagai materi penunjang.
Seorang ulama asal Ploso Kediri Jawa Timur, KH. Nurul Huda pernah bertutur,
sulit mencari ulama yang cara penyampaiannya sangat mudah dipahami oleh semua
kalangan dan do’anya sanggup menggetarkan hati seperti Kiai Asrori. Hal senada
diakui oleh KH. Abdul Ghofur seorang ulama asal Pekalongan. Dengan kata lain,
banyak orang mengakui bahwa Kyai Asrori tergolong ulama yang langka dalam hal
kapasitas keilmuan dan spiritualnya.
Di kemudian hari, makin banyaknya murid mengundang kekhawatiran beliau karena
menyulitkan pemantauan. Beberapa murid senior mengusulkan dibentuknya semacam
wadah untuk “menyatukan” jamaah. Maka pada Desember 2005 diresmikanlah “Jama’ah
al-Khidmah” yang tujuan dasarnya adalah untuk pembinaan jamaah agar lebih
tertib dan terarah.
Hingga akhir hayatnya, TQN al-Utsmaniyyah telah berkembang pesat hampir di
seluruh pulau Jawa, dan bahkan hingga ke manca negara. Beliau telah mewariskan
teladan ruhani yang sudah selayaknya kita ikuti, sesuai dengan kemampuan kita.
Kini ulama yang langka itu telah kembali ke Sang Kekasih, namun bukan berarti
hubungan ruhani dengan jamaahnya telah terputus. Ruh-ruh para Wali Allah akan
selalu hadir bersama orang-rang yang senantiasa berkhidmat kepada mereka, yang
selalu mengikuti jejak ruhani mereka sesuai dengan yang digariskan oleh Kanjeng
Rasulullaah SAW.
Seperti
Wali Allah lainnya, beliau telah menjadi semacam “Jalan,” bukan lagi pejalan.
Beliau menjadi “wadah” yang dilalui oleh “sesuatu,” bukan lagi pejalan yang
menuruti kemauannya sendiri. Beliau barangkali salah satu contoh dari sedikit
orang yang mampu merealisasikan hadits qudsi yang menyatakan “Allah telah
menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, pendengarannya yang dengannya
ia mendengar, tangannya yang dengannya ia memegang dan kakinya yang dengannya
ia melangkah…” Beliau memang tak lagi bersama kita secara fisik, namun ingatlah
nasihat Maulana Rumi ini:
“Jangan
bersedih, wali Allah tak kan hilang dari dirimu, sebab semesta telah sirna
dalam dirinya” … Dunia memang berada dalam genggamannya, namun tak pernah
menguasai hatinya, sebab hatinya telah menjadi tahta Tuhannya. Hanya mereka
yang mampu berzikir dalam setiap detak jantungnyalah yang dianugerahi martabat
yang mulia ini…